Beranda / Blog

Dilema Transisi Menuju Era Energi Berkelanjutan, Energi Fosil menuju Energi Tebarukan

1/11/2019
Bagikan:

Bukti Nyata Hukum Kekekalan Energi

Sebagaimana kita tahu mengenai hukum kekekalan energi, untuk memperoleh suatu sumber energi maka harus didapatkan dari sumber energi lainnya. Artinya, terdapat sumber energi disertai proses produksi listrik yang harus terjadi, sebelum energi listrik dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Guna memenuhi kebutuhan energi listrik, banyak dibangun pembangkit listrik yang berfungsi untuk memproduksi listrik. Bagaimana skema produksinya?

Sesuai dengan hukum kekekalan energi, pembangkit listrik akan memanfaatkan suatu sumber energi. Sebagai contoh bahan bakar fosil yang kemudian dengan melalui proses konversi energi akan menghasilkan energi listrik. Namun, bagaimana untuk mendapatkan listrik secara kontinyu? Diperlukan proses produksi listrik serta ketersediaan sumber energinya secara terus menerus. Jika tidak, maka tidak akan ada listrik yang dihasilkan (kecuali terdapat mekanisme penyimpanan energi listrik).

Dengan permintaan dan kebutuhan energi listrik yang akan terus ada, diperlukan sebuah pendekatan produksi listrik yang berkelanjutan. Bagaimana dengan metode untuk memproduksi listrik saat ini? Apakah sudah cukup adaptif untuk menerima kenyataan hukum kekekalan energi?

Energi Fosil dan Dominasinya

Tahukah anda bahwa kita sudah sangat banyak menggunakan bahan bakar fosil tersebut untuk produksi listrik?

Berdasarakan referensi [1], pada tahun 2015, Indonesia mempunyai sekitar 56 GW pembangkit listrik yang menghasilkan lebih dari 228 TWh energi listrik. Produksi listrik ini kebanyakan berasal dari pembangkit listrik berbasis energi fosil, yaitu batu bara (56%), gas (25%) dan minyak (8.6%).

Seperti yang kita ketahui bahwa bahan bakar fosil yang digunakan oleh pembangkit listrik tersebut pada akhirnya akan habis. Hal ini disebabkan bahan bakar fosil seperti batu bara, gas dan minyak merupakan sumber energi yang terbatas dan jika digunakan secara terus menerus tentunya sumber energi tersebut akan habis.

Pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil tidak akan bisa melakukan proses produksi listrik tanpa adanya ketersediaan sumber energinya, yaitu bahan bakar fosil. Kerusakan lingkungan menjadi bukti bahwa pembangkitan energi listrik berbasis bahan bakar fosil merupakan sebuah aktivitas yang tidak berkelanjutan. Pada satu sisi, untuk meneruskan proses produksi listrik diperlukan suplai bahan bakar fosil secara kontinyu. Akibatnya terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dengan justifikasi untuk memenuhi kebutuhan listrik. Di sisi lain, eksternalisasi dari proses produksi listrik berupa gas CO2 hasil pembakaran terus menerus dibuang ke atmosfer. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Dilain pihak, isu kepentingan pribadi/kelompok serta permasalahan politik menjadi salah satu faktor penghambat. Akibatnya, kita masih terus bergantung pada energi fosil dan terus menunggu transisi ini.

Padahal sudah jelas bahwa dampak dari menunggu hanyalah menunda transisi yang tidak terelakkan atau skenario terburuknya adalah kehancuran ekosistem (dan dampaknya terhadap keberlangsungan hidup manusia itu sendiri). Oleh karena itu, Elon Musk menyebut hal ini sebagai eksperimen terbodoh sepanjang sejarah umat manusia [2]. Jadi, bagaimana seharusnya kita menyikapi fenomena ini?

Stop Candu Energi Fosil, Mulai Adopsi Energi Terbarukan

Kita telah menyadari adanya hukum kekekalan energi, disertai dengan realita bahwa energi listrik telah menjadi kebutuhan dasar. Sehingga diperlukan sebuah sumber energi serta proses produksi listrik yang berkelanjutan yang tidak bergantung dengan sumber energi yang terbatas

Namun, proses produksi listrik yang bergantung pada sumber energi non-fosil nyatanya masih minim utlisasinya dibandingkan penggunaan energi fosil. Dikenal sebagai “teknologi baru”, membuat banyak orang melihatnya sebagai sebuah resiko.

Akibatnya terjadilah vicious cycle, dimana persepsi itu membuat teknologi energi fosil menjadi lebih atraktif sehingga produksi listrik akan semakin didominasi oleh sumber energi fosil. Hal itu akan mengonfirmasi anggapan bahwa energi fosil adalah sarana utama pemenuh kebutuhan listrik.

Kebergantungan energi fosil memang sulit dihindari, tapi apakah risiko kerusakan yang irreversible pada lingkungan akan menutup mata kita dari dampak candu energi fosil? Suatu hal yang perlu kita khawatirkan dan renungkan bersama.

Kita mengetahui bahwa solusi yang bisa dilakukan bersama untuk menuju masa depan energi yang berkelanjutan adalah mengurangi utilisasi energi fosil.

Namun, cara ini hanya merupakan satu sisi mata koin. Di sisi lain, diperlukan sumber energi yang bersifat anti-energi fosil yang tidak pernah habis untuk membantu proses produksi listrik secara berkelanjutan. Selain itu, dampak eksternalisasi yang dihasilkan menjadi minimum pada lingkungan sehingga tercapailah visi era energi berkelanjutan. Dapatkah kita menuju kesana?

Apa yang Bisa Dilakukan?

Untungnya, planet bumi kita sudah diberkati dengan sumber energi terbarukan yang dapat mewujudkannya. Kontras dengan bahan bakar fosil, energi terbarukan tidak akan habis dan selalu tersedia secara terus menerus. Salah satu contoh dari energi terbarukan adalah energi surya yang sangat berlimpah.

Energi surya merupakan salah satu pilihan yang baik untuk portofolio produksi listrik kita. Terdapat beberapa wilayah atau daerah yang mengalami kemajuan akibat kelimpahan cadangan energi fosilnya. Akan tetapi, tidak semua tempat memiliki akses yang sama pada sumber energi yang terbatas.

Sudah seharusnya kita melepaskan diri dari kebergantungan dan kecanduan penggunaan energi fosil. Sebaliknya, energi surya memiliki sifat yang sangat demokratis dan memerdekakan. Hampir di setiap wilayah mempunyai akses terhadap sinar matahari, terutama di Indonesia yang terletak di wilayah khatulistiwa. Dengan memanfaatkan energi surya untuk produksi listrik, kita baru saja menawarkan solusi berkelanjutan yang tidak hanya akan menguntungkan kita semua, tapi juga generasi selanjutnya dan planet bumi ini.

Jadi, apa langkah konkrit yang kita bisa lakukan secara secara bersama-sama?

Mulai adopsi energi terbarukan, misal dengan cara melakukan pemasangan surya atap di rumah anda. Dengan memasang surya atap, anda baru saja memanfaatkan energi surya untuk melakukan proses produksi listrik. Listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.

Dengan memiliki kesadaran akan keberadaan hukum kekekalan energi serta pentingnya menjaga lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan akan mendukung keberlangsungan hidup umat manusia

External Source:[1] PwC Indonesia, “Power in Indonesia” , Jakarta, 2016.

[2] https://www.youtube.com/watch?v=znukFtaWPAw

Bagikan:
Tags:
energi fosil
kajian
energi terbarukan
pengetahuan